Memotret di Dalam Gereja: Persiapan, Aturan, dan Pengaturan Kamera
Perayaan Misa menuntut hormat lebih dahulu, baru foto yang bagus. Inilah persiapan, aturan pribadi, dan pengaturan kamera yang kami pakai untuk mendokumentasikan Misa tanpa mengganggu kekhidmatannya.
Siap sebelum memotret
Memotret dokumentasi di acara formal berarti memikul harapan banyak orang akan foto yang baik. Karena itu, jangan terjun sebelum siap. Berlatihlah, belajar, dan bereksperimen sampai karya Anda mumpuni.
Persiapan Siapkan kamera, lensa, kartu memori, dan baterai dengan baik, termasuk baterai dan kartu memori cadangan. Perayaan tidak bisa diulang bila daya atau ruang simpan habis di tengah acara.
Pahami teori Teori dasar fotografi dan latihan yang terus-menerus membuat kita terbiasa. Satu prinsip yang berguna adalah ATM: Amati, Tiru, Modifikasi.
Aturan di dalam gereja
Ada beberapa aturan pribadi yang kami pegang saat memotret dalam perayaan Misa. Semuanya berpangkal pada satu hal: foto tidak boleh mengganggu ibadah.
- Berpakaian pantas dan bersepatu.
- Tidak menghalangi Romo ataupun petugas liturgi lainnya.
- Tidak berada di area depan altar, apalagi di atas altar.
- Sebisa mungkin tidak terlihat oleh umat. Fotografer yang berdiri atau lalu lalang di antara umat akan mengganggu mereka.
- Tidak memakai lampu kilat (flash).
Fotografer yang tenang dan tidak mencolok memberi ruang bagi suasana Misa untuk tampil apa adanya.
Kuasai eksposur
Kenali cara kerja kamera: diafragma (aperture), kecepatan rana (shutter speed), dan ISO. Mengubah salah satunya akan memengaruhi eksposur, yaitu terang gelapnya foto.
Ketiganya saling terkait seperti sudut-sudut sebuah segitiga. Diafragma menentukan seberapa luas area yang tajam, kecepatan rana menentukan apakah gerak membeku atau mengabur, dan ISO menentukan kepekaan kamera terhadap cahaya. Geser satu, dan dua lainnya perlu menyesuaikan.
Mode A atau mode M
Mode A (Aperture Priority, semiotomatis) Kecepatan rana dan ISO diatur otomatis oleh kamera, sedangkan diafragma Anda atur sendiri. Keunggulannya, Anda bisa menentukan apakah objek menjadi bokeh dengan bukaan besar (f/1.2) atau seluruhnya tajam (f/5.6 sampai f/9), dengan cepat, tanpa takut kehilangan momen, sambil memperhitungkan terang gelapnya cahaya yang masuk ke kamera.
Mode M (Manual) ISO, kecepatan rana, dan diafragma semuanya diatur sendiri. Anda memegang kendali penuh, dengan konsekuensi harus lebih cepat menyesuaikan saat cahaya berubah.
Pengaturan di dalam gereja
ISO Pada sore atau malam hari, kami mengatur ISO mulai 1600 sampai 3200, bahkan di beberapa momen lebih. Noise, yaitu bintik halus yang rapat, memang muncul. Karena fotonya ditampilkan di Instagram dan disunting, hasilnya masih bisa dikompromikan. Pada pagi menjelang siang, ISO mulai 400 sampai 800, kadang lebih. Pada sebagian kamera, ISO 800 pun terkadang sudah berbintik.
Kecepatan rana Karena banyak objek dan orang yang bergerak, kami menetapkan kecepatan rana minimal 1/125 atau 1/160 agar objek membeku dan tidak buram. Pada kecepatan itu, gerakan yang sangat cepat pun terkadang masih bisa tertangkap.
Diafragma Lihat jumlah objek yang ingin dipotret. Untuk satu orang, pakai bukaan terbesar kamera, misalnya f/1.2. Untuk dua atau tiga orang, mulailah dari f/4 agar semuanya tetap tajam. Aneh jika dua orang berdampingan tetapi hanya satu yang tajam dan yang lain buram.
Angka-angka ini pengalaman pribadi kami, bukan aturan baku. Sesuaikan dengan kamera dan cahaya di tempat Anda.
Olah visi komposisi
Kamera menyediakan garis bantu (grid line) agar objek mudah ditempatkan dengan benar. Biasanya garisnya dua tegak dan dua datar, dan titik pertemuannya menjadi tempat yang baik bagi objek.
Aktifkan garis bantu itu di kamera, lalu latih mata: letakkan objek utama di garis atau di titik temunya. Teknik komposisi lain dibahas di artikel Memotret dengan Ponsel.
Terus berlatih
Memotret perlu keahlian dan keterampilan. Banyaklah berlatih, belajar, dan bereksperimen hingga karya Anda siap menghadapi acara formal.
Prinsip ATM Amati foto yang Anda kagumi, Tiru caranya, lalu Modifikasi sampai menjadi cara Anda sendiri.
Pelajari teori dasar fotografi lewat buku Memotret itu Menyenangkan, lalu praktikkan agar terbiasa. Materi Kelas kami memuat isinya dan terbuka untuk dibaca.
Bahan ini berasal dari sesi berbagi pengalaman memotret di dalam gereja bersama Unit Kegiatan Memotret, komunitas fotografi di Yogyakarta.

